google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu ✖

Mode Gelap
TNI Lanjutkan Pembangunan 14 Jembatan Beton di Aceh Selatan, Pembongkaran dan Penggalian Fondasi Dikebut TNI dan Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Beton di Buluh Didi, Kluet Timur GEKRAFS Aceh Besar Resmi Dilantik, Sulthan F. Ayhwan Pimpin Penguatan Ekonomi Kreatif Dandim Aceh Selatan Motivasi Bakal Calon Prajurit TNI AD, Tegaskan Masuk TNI Gratis dan Tanpa Calo TNI Droping Material di Sejumlah Titik Pembangunan 14 Jembatan Beton Aceh Selatan Kodim 0107/Aceh Selatan Gelar Upacara Mingguan, Dandim Tekankan Disiplin dan Kesiapsiagaan Wilayah

Politik

Jangan Korbankan Samadua, IKSAS Desak Pemerintah Tinjau IUP Tambang

badge-check

Jangan Korbankan Samadua, IKSAS Desak Pemerintah Tinjau IUP Tambang Perbesar

SUBULUSALLAM– Gelombang penolakan terhadap rencana eksplorasi perusahaan tambang emas di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, terus meluas. Kali ini, sikap tegas datang dari Keluarga Besar Ikatan Kekeluargaan Samadua Aceh Selatan (IKSAS) Kota Subulussalam.

IKSAS Kota Subulussalam menyatakan menolak keberadaan dan rencana eksplorasi perusahaan tambang emas yang dilakukan PT Mineral Mega Sentosa (PT MMS) dan PT Bersama Sukses Mining (PT BSM) di kawasan pegunungan Samadua.

Sikap tersebut disampaikan dalam Pengajian Bulanan IKSAS Kota Subulussalam, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan itu dipimpin langsung Ketua IKSAS Kota Subulussalam, dr. Diva Musda, Sp.An, serta dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Samadua yang berdomisili di Subulussalam.

Ketua IKSAS Kota Subulussalam menegaskan, penolakan tersebut bukan semata-mata karena persoalan aktivitas pertambangan, tetapi lebih pada kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat Samadua.

Menurutnya, kawasan pegunungan Samadua selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat. Sejumlah komoditas perkebunan seperti pala, durian, cengkeh, kopi, hingga tanaman muda menjadi sumber penghasilan masyarakat.

“Kawasan pengelolaan perusahaan tambang ini berada di pegunungan Samadua yang selama ini menjadi tempat sebagian mata pencaharian masyarakat, seperti kebun pala, durian, cengkeh, kopi dan tanaman muda lainnya,” ujarnya.

Diva mengingatkan, aktivitas pertambangan yang dilakukan berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang panjang apabila tidak dikelola secara benar.

Risiko tersebut, kata Diva, antara lain kerusakan lingkungan, meningkatnya potensi banjir dan longsor, berkurangnya sumber air bersih, hingga ancaman pencemaran akibat limbah pertambangan.

“Tidak hanya itu, aktivitas pertambangan berpotensi memicu kerusakan lingkungan, mulai dari meningkatnya risiko banjir dan longsor, berkurangnya sumber air bersih, serta dampak kesehatan atas pencemaran limbah yang akan ditimbulkan,” katanya.

IKSAS: Jangan Tukar Lingkungan dengan Keuntungan Sesaat

IKSAS Kota Subulussalam menilai potensi kerugian yang mungkin ditanggung masyarakat dalam jangka panjang harus menjadi pertimbangan utama sebelum kegiatan eksplorasi maupun pertambangan dilanjutkan.

Menurutnya, keuntungan ekonomi dari aktivitas perusahaan tambang jangan sampai hanya dinikmati dalam waktu singkat, sementara masyarakat harus menanggung dampak kerusakan lingkungan selama bertahun-tahun.

Karena itu, IKSAS mengajak seluruh elemen masyarakat Samadua dan pihak terkait untuk bersama-sama menyampaikan penolakan terhadap rencana eksplorasi perusahaan tambang emas tersebut.

IKSAS juga meminta pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif untuk meninjau kembali proses penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dimiliki PT MMS dan PT BSM.

“Jangan sampai masyarakat tergiur dengan keuntungan sesaat dari aktivitas perusahaan tambang, tetapi mengabaikan dampak jangka panjang yang nantinya akan dirasakan oleh anak cucu kita,” tegas Diva.

Ia berharap pemerintah dapat menempatkan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan terkait aktivitas pertambangan di Samadua.

IKSAS menegaskan, investasi tidak semestinya mengorbankan ruang hidup masyarakat. Sebab, ketika sumber air, perkebunan, hutan dan ekosistem rusak, dampaknya bukan hanya dirasakan generasi sekarang, tetapi juga generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GEKRAFS Aceh Besar Resmi Dilantik, Sulthan F. Ayhwan Pimpin Penguatan Ekonomi Kreatif

14 Oktober 2026 - 13:20 WIB

IMG 20261013 WA0046

Kinerja BPBD dan Dinsos Disorot, HMI Kutacane Minta Bupati Aceh Tenggara Ambil Sikap

12 Oktober 2026 - 07:38 WIB

IMG 20261011 WA0048

Warga 5 Desa di Aceh Tenggara Geram, Galian C Disebut Masih Beroperasi Saat Tanggul Kali Alas Jebol

11 Oktober 2026 - 11:52 WIB

IMG 20261010 WA0021(1)

Musda X Golkar Aceh Tenggara Digelar, Dr. Denni Ambil Kendali dan Serukan Kader Tetap Solid

8 Oktober 2026 - 22:27 WIB

IMG 20261008 WA0066

Cegah Karhutla, Polsek Bukit Tusam Gencarkan Patroli K2YD dan Ingatkan Warga

8 Oktober 2026 - 22:05 WIB

IMG 20261008 WA0031
Terpopuler di Politik