ACEH TENGGARA– Situasi di bantaran Sungai Kali Alas, Kecamatan Lawe Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, memanas. Di tengah kerusakan perkebunan warga dan jebolnya tanggul sungai, aktivitas alat berat yang diduga berkaitan dengan kegiatan Galian C disebut masih berlangsung. Kekecewaan warga pun memuncak hingga dilaporkan terjadi aksi saling lempar batu dari seberang sungai, Sabtu (10/10/26).
Lima desa dilaporkan terdampak parah akibat jebolnya tanggul Kali Alas. Kelima desa tersebut yakni Desa Bambel Gabungan, Terutung Seperai, Tungare Asli, Kuta Antara, dan Biak Moli.

Warga mengaku kehilangan lahan perkebunan yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian mereka. Kondisi tersebut diperparah dengan kekhawatiran terhadap dampak peningkatan debit air dan aktivitas pertambangan di sekitar aliran sungai.
Dalam sebuah video yang diterima LSM KOREK pada Sabtu (10/10/2026) sore, terlihat puluhan warga berkumpul di tepi sungai dengan kondisi air keruh dan meluap. Sejumlah anak sekolah juga tampak berada di lokasi.
Seorang warga yang mewakili keresahan masyarakat meminta pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Aceh segera turun tangan untuk menangani persoalan tersebut.
“Seperti yang terlihat ini merupakan dampak dari pengikisan air. Selain debit air yang meningkat, kondisi ini juga tidak terlepas dari aktivitas Galian C yang ada di belakang kita. Kita ketahui di sana ada tiga Galian C,” ujar warga dalam rekaman video tersebut.
Ia meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, Gubernur Aceh, dan Wakil Gubernur Aceh agar persoalan yang dihadapi masyarakat tidak dibiarkan berlarut-larut.
“Kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, mohon diperhatikan kami selaku rakyat kecil,” ucapnya.
Kekecewaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kerusakan perkebunan dan jebolnya tanggul. Warga juga khawatir ketegangan yang terjadi di bantaran sungai dapat berkembang menjadi konflik terbuka apabila tidak segera ditangani.
Mereka meminta seluruh aktivitas Galian C di kawasan Kali Alas dihentikan sementara hingga pemerintah dan aparat berwenang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap perizinan serta dampaknya terhadap kondisi sungai.
“Kami dari lima desa meminta penanganan serius. Jangan tunggu sampai ada perkelahian atau korban. Hentikan dulu semua aktivitas Galian C di Kali Alas, periksa izinnya, dan perbaiki tanggul yang jebol,” tegas warga.
Desakan tersebut menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan masyarakat, perlindungan lahan perkebunan, serta potensi konflik sosial di tengah kondisi sungai yang dilaporkan mengalami peningkatan debit air.
Meski warga menduga aktivitas Galian C turut berkontribusi terhadap pengikisan bantaran dan jebolnya tanggul, penyebab pasti kerusakan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis oleh instansi berwenang.
Menanggapi situasi tersebut, Komando Garis Depan LSM KOREK, Riko Andalas, mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah terkait segera turun ke lokasi untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Riko meminta Kapolres Aceh Tenggara, Dandim, Bupati Aceh Tenggara, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta instansi ESDM Provinsi Aceh mengambil langkah cepat terhadap aktivitas Galian C di kawasan Kali Alas.
“Ini sudah lampu merah! Hari ini, Sabtu 10 Oktober, sudah ada lima desa yang menjadi korban. Perkebunan hancur, tanggul jebol, dan warga sudah saling lempar karena emosi melihat alat berat masih beroperasi,” tegas Riko.
Menurutnya, pemerintah dan aparat tidak boleh menunggu sampai terjadi bentrokan atau jatuhnya korban jiwa sebelum mengambil tindakan.
“Kami dari LSM KOREK mendesak Kapolres Aceh Tenggara, Dandim, Bupati, DLHK, dan ESDM Provinsi Aceh untuk segera menghentikan total aktivitas Galian C di Kali Alas, Kecamatan Lawe Alas. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bertindak,” ujarnya.
Selain meminta penghentian sementara aktivitas pertambangan, warga mendesak pemerintah memeriksa legalitas seluruh kegiatan Galian C di sekitar lokasi, mengevaluasi dampak lingkungan, serta segera menyusun langkah penanganan tanggul yang jebol.
”Pemeriksaan lapangan dinilai penting untuk memastikan faktor penyebab kerusakan, menentukan langkah pemulihan, dan mencegah ancaman serupa terhadap permukiman serta lahan produktif masyarakat.” Pungkasnya














