BANDA ACEH — Mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (PBI FKIP USK), berhasil meraih Juara I Festival Pantun Internasional. Pengumuman juara dilakukan secara daring pada Senin (28/09/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen PBI FKIP USK itu sudah dimulai sejak Juli lalu dan berakhir pada awal September 20206.

Ketua Pelaksana, Dessi Chairani Tanjung, S.Pd., M.Pd., mengatakan, pasangan mahasiswa PBI FKIP USK atas Zikri Aulia dan Siti Nabila ditetapkan sebagai juara pertama setelah berhasil memukau dewan juri melalui penampilan yang komunikatif.
“Dewan juri dari berbagai latar belakang dan negara. Ada Mohd. Fauzi dari Universitas Lancang Kuning, Indonesia; Arfan Mapa dari Thamavitya Mulniti Yala, Thailand; serta Syafwina, praktisi seni Aceh, Indonesia,” jelas Dessi.
Sementara itu, kata Dessi, Juara II diraih oleh Ni Wayan Luh Anggita Eka Purnami dan Ni Nengah Ayu Anggita Dwi Purnami dari Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, Indonesia. Adapun Juara III diraih oleh Elsa Dwiyanti dan Andrian Ramarani dari Riau.
“Kegiatan ini bukan sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pantun dan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional. Makanya, lomba berpantun ini menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu, meskipun teksnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” papar Dessi.
Menurut Dosen PBI FKIP USK itu, festival tersebut mengusung dua tujuan utama. Pertama, mempopulerkan pantun ke dunia internasional sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang telah mendapatkan pengakuan UNESCO. Kedua, mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan internasional sebagai bagian dari upaya menginternasionalisasikan bahasa dan sastra Indonesia.
“UNESCO memasukkan Pantun ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 17 Desember 2020 melalui pengajuan bersama Indonesia dan Malaysia. Untuk apa pantun menjadi warisan dunia jika tidak pernah kita perlakukan selayaknya milik dunia? Di sinilah pentingnya festival pantun internasional ini,” tegas Dessi.
Dessi menjelaskan, peserta festival terlebih dahulu mengirimkan video penampilan berpantun, baik secara berpasangan maupun individu. Video-video tersebut kemudian dinilai oleh dewan juri untuk menentukan para pemenang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan aspek penilaian meliputi kesesuaian pantun dengan tema, gaya dan ekspresi penampilan, kejelasan vokal, serta kemampuan komunikasi.
“Dewan juri kami pilih dari luar institusi kami agar tercipta kompetisi yang sehat. Dari puluhan video yang masuk, ternyata mahasiswa PBI FKIP USK dipilih oleh juri sebagai juara satu. Ini sungguh sebuah mukjizat bagi departemen kami,” ujar Dessi.
Keberhasilan mahasiswa PBI FKIP USK meraih juara pertama juga dinilai memperlihatkan bahwa tradisi sastra lokal memiliki peluang besar untuk berkembang di ruang global.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP USK, Prof. Dr. Drs. Denni Iskandar, M.Pd. Menurutnya, pantun memiliki karakter yang unik karena menggabungkan keindahan bahasa, kreativitas, musikalitas, kecerdasan verbal, serta kemampuan menyampaikan pesan secara halus.
“Kompetisi ini sejak awal dibuka secara luas bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk peserta dari luar Indonesia. Informasi dari panitia, ada peserta dari Malaysia, Thailand, bahkan Turki. Kebetulan beberapa mahasiswa PBI juga ikut lomba ini. Saya terkejut dan sangat apresiatif atas kerja dewan juri. Apresiasi yang tinggi juga untuk para juara,” kata Denni.
Denni menilai keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Departemen PBI FKIP USK. Kata dia, prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkompetisi dalam bidang seni dan budaya pada tingkat internasional.[]











