google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu ✖

Mode Gelap
Kinerja BPBD dan Dinsos Disorot, HMI Kutacane Minta Bupati Aceh Tenggara Ambil Sikap Soroti Trend di Lingkungan Birokrasi Aceh Selatan, Tonicko Anggara Pertanyakan Fokus Kinerja SKPK Karang Taruna Aceh Selatan Rudi MS, SKM Hadiri Maulid Nabi dan Santunan Anak Yatim di Pesantren Ashabul Kahfi TNI dan Warga Bahu Membahu Mulai Pembangunan Jembatan Beton di Kemumu Seberang Jembatan Krueng Batu Mulai Dikerjakan, TNI dan Warga Gotong Royong Gali Abutmen Warga 5 Desa di Aceh Tenggara Geram, Galian C Disebut Masih Beroperasi Saat Tanggul Kali Alas Jebol

Budaya

Mahasiswa PBI FKIP USK Juara Festival Pantun Internasional

badge-check

Zikri Aulia dan Siti Nabila, Mahasiswa PBI FKIP USK Perbesar

Zikri Aulia dan Siti Nabila, Mahasiswa PBI FKIP USK

BANDA ACEH — Mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (PBI FKIP USK), berhasil meraih Juara I Festival Pantun Internasional. Pengumuman juara dilakukan secara daring pada Senin (28/09/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen PBI FKIP USK itu sudah dimulai sejak Juli lalu dan berakhir pada awal September 20206.

Ketua Pelaksana, Dessi Chairani Tanjung, S.Pd., M.Pd., mengatakan, pasangan mahasiswa PBI FKIP USK atas Zikri Aulia dan Siti Nabila ditetapkan sebagai juara pertama setelah berhasil memukau dewan juri melalui penampilan yang komunikatif.

“Dewan juri dari berbagai latar belakang dan negara. Ada Mohd. Fauzi dari Universitas Lancang Kuning, Indonesia; Arfan Mapa dari Thamavitya Mulniti Yala, Thailand; serta Syafwina, praktisi seni Aceh, Indonesia,” jelas Dessi.

Sementara itu, kata Dessi, Juara II diraih oleh Ni Wayan Luh Anggita Eka Purnami dan Ni Nengah Ayu Anggita Dwi Purnami dari Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, Indonesia. Adapun Juara III diraih oleh Elsa Dwiyanti dan Andrian Ramarani dari Riau.

“Kegiatan ini bukan sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pantun dan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional. Makanya, lomba berpantun ini menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu, meskipun teksnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” papar Dessi.

Menurut Dosen PBI FKIP USK itu, festival tersebut mengusung dua tujuan utama. Pertama, mempopulerkan pantun ke dunia internasional sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang telah mendapatkan pengakuan UNESCO. Kedua, mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan internasional sebagai bagian dari upaya menginternasionalisasikan bahasa dan sastra Indonesia.

“UNESCO memasukkan Pantun ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 17 Desember 2020 melalui pengajuan bersama Indonesia dan Malaysia. Untuk apa pantun menjadi warisan dunia jika tidak pernah kita perlakukan selayaknya milik dunia? Di sinilah pentingnya festival pantun internasional ini,” tegas Dessi.

Dessi menjelaskan, peserta festival terlebih dahulu mengirimkan video penampilan berpantun, baik secara berpasangan maupun individu. Video-video tersebut kemudian dinilai oleh dewan juri untuk menentukan para pemenang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan aspek penilaian meliputi kesesuaian pantun dengan tema, gaya dan ekspresi penampilan, kejelasan vokal, serta kemampuan komunikasi.

“Dewan juri kami pilih dari luar institusi kami agar tercipta kompetisi yang sehat. Dari puluhan video yang masuk, ternyata mahasiswa PBI FKIP USK dipilih oleh juri sebagai juara satu. Ini sungguh sebuah mukjizat bagi departemen kami,” ujar Dessi.

Keberhasilan mahasiswa PBI FKIP USK meraih juara pertama juga dinilai memperlihatkan bahwa tradisi sastra lokal memiliki peluang besar untuk berkembang di ruang global.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP USK, Prof. Dr. Drs. Denni Iskandar, M.Pd. Menurutnya, pantun memiliki karakter yang unik karena menggabungkan keindahan bahasa, kreativitas, musikalitas, kecerdasan verbal, serta kemampuan menyampaikan pesan secara halus.

“Kompetisi ini sejak awal dibuka secara luas bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk peserta dari luar Indonesia. Informasi dari panitia, ada peserta dari Malaysia, Thailand, bahkan Turki. Kebetulan beberapa mahasiswa PBI juga ikut lomba ini. Saya terkejut dan sangat apresiatif atas kerja dewan juri. Apresiasi yang tinggi juga untuk para juara,” kata Denni.

Denni menilai keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Departemen PBI FKIP USK. Kata dia, prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkompetisi dalam bidang seni dan budaya pada tingkat internasional.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati H. Mirwan MS Apresiasi MUQ Aceh Selatan Raih Juara Umum II EXPOSE III Se-Regional Barat Selatan Aceh

9 Oktober 2026 - 13:23 WIB

IMG 20261009 132728 (1200 x 800 piksel)

Dorong Kampus Semakin Mendunia, USK Siapkan Sepuluh Program Unggulan Akademik 2027

5 Oktober 2026 - 19:42 WIB

WhatsApp Image 2026 10 05 at 19.40.09

Dalam Rangka Milad USK, FKIP Luncurkan 53 Buku Karya Dosen

30 September 2026 - 13:06 WIB

Polda Aceh Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ajak Personel Teladani Akhlak Rasulullah dalam Bertugas

28 September 2026 - 15:17 WIB

IMG 20260928 WA0023

UPT MKU USK Perlombakan Produk Pembelajaran Berbasis Proyek

24 September 2026 - 12:44 WIB

WhatsApp Image 2026 09 23 at 08.21.16
Terpopuler di Budaya