google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu ✖

Mode Gelap
Pascabanjir, Satgas PDB Aceh Selatan Sambangi Anak Sekolah dan Warga, Pastikan Masyarakat Tak Sendiri Hadapi Masa Pemulihan Progres Jembatan Garuda Terus Meningkat, Desa Jambo Papan Capai 76 Persen, Dandim 0107 Tegaskan Komitmen Percepatan Diduga Program Ketahanan Pangan 2025–2026 Tak Sesuai Realisasi, Warga Desak Polres Aceh Tenggara Usut ADD Gelah Musara Kapolres dan Bupati Aceh Tenggara Turun ke Masjid, Jumat Keliling Jadi Ajang Serap Aspirasi Warga Air Banjir Telah Surut Total, TNI dan BPBD Tetap Siaga Pantau Wilayah Terdampak di Aceh Selatan Sejumlah Titik Jembatan Garuda di Aceh Selatan Masuki Tahap Pengecoran, TNI dan Warga Kompak Percepat Pembangunan

Budaya

Dosen FKIP USK Latih Siswa Paket B dan C Ruman Aceh Menulis Puisi, Belajar Merangkai Cinta Lewat Kata

badge-check

Siswa-siswa Paket B dan Paket C di PKBM Ruman Aceh mendapat pelatihan menulis puisi dari sastrawan Aceh, Dr. Herman RN Perbesar

Siswa-siswa Paket B dan Paket C di PKBM Ruman Aceh mendapat pelatihan menulis puisi dari sastrawan Aceh, Dr. Herman RN

BANDA ACEH — Siswa-siswa Paket B dan Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ruman Aceh mendapatkan pengalaman belajar istimewa. Mereka berkesempatan belajar menciptakan puisi secara langsung bersama dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK), Dr. Herman RN, yang juga dikenal sebagai penyair Aceh.

Kegiatan belajar menulis puisi yang berlangsung sehari penuh pada Ahad (25/10/2026) tersebut menghadirkan pengalaman belajar sastra yang berbeda bagi para siswa paket B dan paket C Ruman Aceh. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga praktik langsung merangkai kata menjadi puisi.

Mengawali pelatihan, Herman RN memperkenalkan beragam jenis dan bentuk puisi. Ia mengajak para siswa menyelami cara para penyair mengungkapkan perasaan, khususnya cinta, melalui pilihan kata, metafora, dan simbol-simbol puitis.

“Kalau kita menyatakan cinta langsung, ‘aku sangat cinta, sangat sayang sama kamu’, pasti yang mendengar tidak suka. Nah, lihat cara penyair menyatakan cintanya. Sapardi Djoko Damono menggunakan metafora kayu menjadi abu, awan menjadi tiada. Lihat W.S. Rendra pula, cinta telah menyembunyikan pisaunya,” ujar Herman RN.

Dosen pengampu mata kuliah Puisi tersebut juga memperkenalkan contoh pengungkapan cinta melalui puisinya sendiri. Ia menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat dikembangkan menjadi ungkapan puitis yang mengandung makna lebih luas.

“Kalau Habiburrahman El Shirazy menyatakan cinta dengan diksi seperti matahari mencintai titah Tuhannya. Kalau saya menyatakan cinta begini, ‘kau berikan aku satu huruf, dengan itu kurangkai kata cinta, kau berikan aku satu cinta, dengan itu kusempurnakan agama’,” tutur Herman yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah para siswa.

Kepala Sekolah PKBM Ruman Aceh, Nonong Noviasyah, S.Pd., mengatakan bahwa kehadiran pengajar dari luar lembaga merupakan bagian dari upaya memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada siswa Paket B dan Paket C.

“Bayangkan, kali ini mereka mendapatkan materi sekaligus praktik bersama pakarnya. Pakar puisi sekaligus dosen Universitas Syiah Kuala. Ini kebanggaan bagi para siswa dan bagi kami juga tentunya,” kata Nonong.

Menurutnya, kegiatan semacam ini membuka kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan praktisi dan akademisi. Kata dia, hal ini sekaligus memperluas wawasan para siswa.

Dewan Pembina Ruman Aceh, Ahmad Arif, turut menambahkan bahwa setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Namun, dalam kenyataannya, keterbatasan finansial, kondisi fisik, dan berbagai faktor lainnya menjadi hambatan bagi sebagian anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Di sinilah kami Ruman Aceh mencoba memberikan fasilitas dan kesempatan bagi mereka. Tentunya semampu kami,” jelas Arif.

Ia menyampaikan bahwa Ruman Aceh hingga kini menyediakan layanan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C yang tercatat secara resmi pada instansi pemerintahan. Lembaga tersebut dibangun dengan semangat sosial untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan kesempatan belajar.

“Ruman Aceh ini dibangun murni karena tujuan sosial. Bukan mencari uang. Makanya, di sini lebih banyak relawan daripada fasilitator yang kami undang. Jika ada bantuan, seperti sekarang ini ada bantuan dari pemerintah, baru kami undang pengajar eksternal,” papar Arif.

Arif merintis Ruman Aceh sejak 2013 bersama istrinya, Rizky Sopya. Perjalanan membangun lembaga tersebut beranjak dari komitmen keduanya terhadap pendidikan dan kepedulian sosial. Bahkan, demi menyediakan tempat belajar bagi anak-anak, mereka sepakat menjual mobil pribadi untuk membiayai penyewaan rumah yang menjadi awal kegiatan Ruman Aceh.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry Hadirkan Orasi Ilmiah Ombudsman dalam Pekan Nasional Pelayanan Publik

28 Oktober 2026 - 21:15 WIB

IMG 20261028 WA0081

Dandim 0107/Aceh Selatan Hadiri Peringatan Hari Santri 2026, Tekankan Peran Santri dalam Membangun Negeri

22 Oktober 2026 - 13:57 WIB

IMG 20261022 WA0033

Kapolda Aceh Ajak Pelajar Jauhi Narkoba dan Stop Perundungan: Masa Depan Dimulai dari Karakter

19 Oktober 2026 - 16:15 WIB

IMG 20261019 WA0119

Peduli Kesehatan Siswa di Tengah Kabut Asap, SDN Kuta Baro Trumon Gandeng Puskesmas

17 Oktober 2026 - 12:17 WIB

IMG 20261017 WA0020

Perkuat SDGs Pendidikan Berkualitas, UPT MKU USK Pelajari Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek di ITB

16 Oktober 2026 - 07:02 WIB

WhatsApp Image 2026 10 15 at 11.43.04
Terpopuler di Nasional