BANDA ACEH — Siswa-siswa Paket B dan Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ruman Aceh mendapatkan pengalaman belajar istimewa. Mereka berkesempatan belajar menciptakan puisi secara langsung bersama dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK), Dr. Herman RN, yang juga dikenal sebagai penyair Aceh.
Kegiatan belajar menulis puisi yang berlangsung sehari penuh pada Ahad (25/10/2026) tersebut menghadirkan pengalaman belajar sastra yang berbeda bagi para siswa paket B dan paket C Ruman Aceh. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga praktik langsung merangkai kata menjadi puisi.

Mengawali pelatihan, Herman RN memperkenalkan beragam jenis dan bentuk puisi. Ia mengajak para siswa menyelami cara para penyair mengungkapkan perasaan, khususnya cinta, melalui pilihan kata, metafora, dan simbol-simbol puitis.
“Kalau kita menyatakan cinta langsung, ‘aku sangat cinta, sangat sayang sama kamu’, pasti yang mendengar tidak suka. Nah, lihat cara penyair menyatakan cintanya. Sapardi Djoko Damono menggunakan metafora kayu menjadi abu, awan menjadi tiada. Lihat W.S. Rendra pula, cinta telah menyembunyikan pisaunya,” ujar Herman RN.
Dosen pengampu mata kuliah Puisi tersebut juga memperkenalkan contoh pengungkapan cinta melalui puisinya sendiri. Ia menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat dikembangkan menjadi ungkapan puitis yang mengandung makna lebih luas.
“Kalau Habiburrahman El Shirazy menyatakan cinta dengan diksi seperti matahari mencintai titah Tuhannya. Kalau saya menyatakan cinta begini, ‘kau berikan aku satu huruf, dengan itu kurangkai kata cinta, kau berikan aku satu cinta, dengan itu kusempurnakan agama’,” tutur Herman yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah para siswa.
Kepala Sekolah PKBM Ruman Aceh, Nonong Noviasyah, S.Pd., mengatakan bahwa kehadiran pengajar dari luar lembaga merupakan bagian dari upaya memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada siswa Paket B dan Paket C.
“Bayangkan, kali ini mereka mendapatkan materi sekaligus praktik bersama pakarnya. Pakar puisi sekaligus dosen Universitas Syiah Kuala. Ini kebanggaan bagi para siswa dan bagi kami juga tentunya,” kata Nonong.
Menurutnya, kegiatan semacam ini membuka kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan praktisi dan akademisi. Kata dia, hal ini sekaligus memperluas wawasan para siswa.
Dewan Pembina Ruman Aceh, Ahmad Arif, turut menambahkan bahwa setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Namun, dalam kenyataannya, keterbatasan finansial, kondisi fisik, dan berbagai faktor lainnya menjadi hambatan bagi sebagian anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Di sinilah kami Ruman Aceh mencoba memberikan fasilitas dan kesempatan bagi mereka. Tentunya semampu kami,” jelas Arif.
Ia menyampaikan bahwa Ruman Aceh hingga kini menyediakan layanan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C yang tercatat secara resmi pada instansi pemerintahan. Lembaga tersebut dibangun dengan semangat sosial untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan kesempatan belajar.
“Ruman Aceh ini dibangun murni karena tujuan sosial. Bukan mencari uang. Makanya, di sini lebih banyak relawan daripada fasilitator yang kami undang. Jika ada bantuan, seperti sekarang ini ada bantuan dari pemerintah, baru kami undang pengajar eksternal,” papar Arif.
Arif merintis Ruman Aceh sejak 2013 bersama istrinya, Rizky Sopya. Perjalanan membangun lembaga tersebut beranjak dari komitmen keduanya terhadap pendidikan dan kepedulian sosial. Bahkan, demi menyediakan tempat belajar bagi anak-anak, mereka sepakat menjual mobil pribadi untuk membiayai penyewaan rumah yang menjadi awal kegiatan Ruman Aceh.[]














