google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu

Mode Gelap
Kapolres Aceh Tenggara Perang Lawan Narkoba, LANN Dorong Pembongkaran Jaringan Hingga Tuntas Plafon Mulai Terpasang, Harapan Penghuni Rumah Baru Kian Nyata; Satgas TMMD Kebut Finishing RTLH Menjelang Minggu Terakhir, Satgas TMMD Kodim 0107/Aceh Selatan Mulai Cor Box Culvert Titik 3 Rumah Reyot Tinggal Kenangan, RTLH TMMD Kodim 0107/Aceh Selatan Masuk Tahap Pengecatan Kejar Target TMMD, Satgas Kodim 0107/Aceh Selatan Lembur hingga Malam Rampungkan RTLH Kapolres Aceh Tenggara Perintahkan Bongkar Jaringan Narkoba

Politik

TTI Sebut Mayoritas OTT Kepala Daerah Dipicu Dugaan Suap Dalam Proyek Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

badge-check

TTI Sebut Mayoritas OTT Kepala Daerah Dipicu Dugaan Suap Dalam Proyek Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Perbesar

BANDA ACEH– Transparansi Tender Indonesia (TTI) menilai rentetan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat sejumlah kepala daerah dalam beberapa tahun terakhir menjadi peringatan keras bahwa sektor pengadaan barang dan jasa pemerintah masih menjadi salah satu area dengan risiko korupsi yang tinggi.

Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, mengatakan bahwa berdasarkan berbagai perkara yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), banyak OTT kepala daerah berkaitan dengan dugaan suap atau gratifikasi yang berhubungan dengan proyek pemerintah, baik pada tahap perencanaan anggaran, proses pemilihan penyedia, pelaksanaan pekerjaan, maupun pencairan pembayaran.

“Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa pengadaan barang dan jasa masih menjadi titik rawan penyalahgunaan kewenangan. Karena itu, pengawasan tidak boleh hanya dilakukan saat tender berlangsung, tetapi harus dimulai sejak tahap perencanaan anggaran hingga serah terima pekerjaan,” ujar Nasruddin Bahar.

Menurut TTI, digitalisasi melalui LPSE maupun e-Katalog merupakan langkah penting, tetapi belum cukup untuk mencegah korupsi apabila masih terjadi intervensi terhadap proses pengadaan, pengaturan pemenang, spesifikasi yang mengarah kepada penyedia tertentu, ataupun praktik suap dalam pengambilan keputusan.

TTI mendorong pemerintah memperkuat sistem pencegahan melalui deteksi dini (red flag), keterbukaan data pengadaan, pengawasan APIP yang lebih efektif, serta keterlibatan masyarakat dalam mengawasi penggunaan APBN dan APBD.

TTI juga mengingatkan seluruh kepala daerah agar tidak menjadikan proyek pemerintah sebagai sumber rente politik maupun kepentingan pribadi. Setiap anggaran yang dikorupsi pada akhirnya mengurangi kualitas pelayanan publik dan menghambat pembangunan yang seharusnya dinikmati masyarakat.

“OTT bukan sekadar penindakan terhadap pelaku, tetapi menjadi cermin bahwa sistem pengawasan masih perlu diperkuat. Pencegahan harus menjadi prioritas agar uang rakyat benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat,” tutup Nasruddin Bahar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kapolres Aceh Tenggara Perang Lawan Narkoba, LANN Dorong Pembongkaran Jaringan Hingga Tuntas

6 Agustus 2026 - 21:20 WIB

IMG 20260806 WA0090

Kapolres Aceh Tenggara Perintahkan Bongkar Jaringan Narkoba

6 Agustus 2026 - 13:15 WIB

IMG 20260806 WA0017

Masady Manggeng Mundur Dari Relawan Abdya Maju

3 Agustus 2026 - 23:23 WIB

IMG 20260803 WA0003

Dinas Pangan dan Komisi B DPRK Temui Bulog, Perkuat Ketahanan Pangan Aceh Tenggara

3 Agustus 2026 - 22:45 WIB

IMG 20260803 WA0073

TTI: Pokir DPRA Tanpa Musrenbang Jangan Masuk APBA 2027

3 Agustus 2026 - 22:15 WIB

IMG 20260803 WA0076
Terpopuler di Politik