google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu

Mode Gelap
Kejar Target! Satgas TMMD Aceh Selatan Tancap Gas Cor Box Culvert Demi Rumah Layak Warga, Satgas TMMD 129 Lembur hingga Tengah Malam Tiang Tower Air Mulai Dicor, Satgas TMMD Kejar Tuntas Fasilitas Air Bersih Warga Rumah Reyot Barlian, Warga Kemumu Hilir Berubah Total, Tinggal Finishing Jelang HUT RI, Koramil, Kecamatan, Polsek dan Warga Bersihkan Lapangan Blang Keujeren Dari Pagi Hingga Malam, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0107/Aceh Selatan Wujudkan Harapan Warga

Politik

Di Forum Keamanan Global, Wilson Lalengke Desak Penghentian Konflik Rusia–Ukraina

badge-check

Di Forum Keamanan Global, Wilson Lalengke Desak Penghentian Konflik Rusia–Ukraina Perbesar

Jakarta— Aktivis hak asasi manusia sekaligus tokoh pers Indonesia, Wilson Lalengke, menyerukan penghentian konflik Rusia–Ukraina saat menjadi pembicara dalam Telekonferensi Internasional yang diselenggarakan Delegasi Federasi Rusia untuk Negosiasi Wina tentang Keamanan Militer dan Pengendalian Senjata, Jumat, 10 Juli 2026.

Forum yang berlangsung secara daring itu diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai negara, mulai dari perwakilan diplomatik, pengamat keamanan, praktisi militer, jurnalis, hingga aktivis HAM. Diskusi dipimpin Kepala Delegasi Federasi Rusia untuk Negosiasi Wina tentang Keamanan Militer dan Pengendalian Senjata, Iulia Zhdanova, dari Wina, Austria.

Dalam pidatonya bertajuk The Cost of Conflict and the Imperative of Peace, Wilson menyoroti dampak perang terhadap warga sipil. Ia menyebut konflik yang berkepanjangan telah memunculkan krisis kemanusiaan, termasuk terganggunya akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.

Wilson juga menyinggung dugaan pemasangan ranjau di jalur publik serta terhambatnya distribusi makanan, obat-obatan, dan layanan kesehatan di wilayah konflik. Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan hukum humaniter internasional, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral masyarakat dunia.

Untuk memperkuat pandangannya, Wilson mengutip konsep Categorical Imperative dari filsuf Jerman Immanuel Kant yang menekankan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat bagi kepentingan tertentu.

Ia menilai konflik bersenjata kerap menempatkan warga sipil dan prajurit sebagai bagian dari kepentingan politik dan strategi militer. “Tidak ada kemenangan yang dapat membenarkan hilangnya nilai kemanusiaan,” kata Wilson dalam forum tersebut.

Wilson mengatakan perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah tidak boleh mengesampingkan kebutuhan mendesak untuk melindungi warga sipil. Menurut dia, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula dampak kemanusiaan yang ditanggung masyarakat.

Di akhir pidatonya, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) itu mengajak komunitas internasional memperkuat jalur diplomasi dan dialog sebagai upaya mencari penyelesaian damai. Ia berharap forum tersebut dapat menjadi salah satu ruang untuk mendorong lahirnya solusi yang mengutamakan keselamatan manusia di atas kepentingan politik maupun militer.(TIM/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kapolres Aceh Tenggara Perang Lawan Narkoba, LANN Dorong Pembongkaran Jaringan Hingga Tuntas

6 Agustus 2026 - 21:20 WIB

IMG 20260806 WA0090

Kapolres Aceh Tenggara Perintahkan Bongkar Jaringan Narkoba

6 Agustus 2026 - 13:15 WIB

IMG 20260806 WA0017

Masady Manggeng Mundur Dari Relawan Abdya Maju

3 Agustus 2026 - 23:23 WIB

IMG 20260803 WA0003

Dinas Pangan dan Komisi B DPRK Temui Bulog, Perkuat Ketahanan Pangan Aceh Tenggara

3 Agustus 2026 - 22:45 WIB

IMG 20260803 WA0073

TTI: Pokir DPRA Tanpa Musrenbang Jangan Masuk APBA 2027

3 Agustus 2026 - 22:15 WIB

IMG 20260803 WA0076
Terpopuler di Politik