google-site-verification=G8ayis7ZEYdO53ipKoeu61XDHYpo2ihoRFjBMNsJCfo

Menu ✖

Mode Gelap
Kodim 0107/Aceh Selatan Gelar Upacara Mingguan, Dandim Tekankan Disiplin dan Kesiapsiagaan Wilayah Sinergi TNI dan Warga, Tahap Awal Pembangunan 14 Jembatan Beton di Aceh Selatan Terus Berjalan Kinerja BPBD dan Dinsos Disorot, HMI Kutacane Minta Bupati Aceh Tenggara Ambil Sikap Soroti Trend di Lingkungan Birokrasi Aceh Selatan, Tonicko Anggara Pertanyakan Fokus Kinerja SKPK Karang Taruna Aceh Selatan Rudi MS, SKM Hadiri Maulid Nabi dan Santunan Anak Yatim di Pesantren Ashabul Kahfi TNI dan Warga Bahu Membahu Mulai Pembangunan Jembatan Beton di Kemumu Seberang

Pemerintah

GNTI Apresiasi BBM Nelayan Rp 15.000 per Liter, Soroti Akses Distribusi dan Perizinan yang Masih Jadi Kendala

badge-check

GNTI Apresiasi BBM Nelayan Rp 15.000 per Liter, Soroti Akses Distribusi dan Perizinan yang Masih Jadi Kendala Perbesar

ACEHBASE.COM | JAKARTA – Ketua PP Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Bidang Nelayan, Sarana dan Prasarana, Masady Manggeng, mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 15.000 per liter bagi kapal perikanan berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT).

Menurut Masady, kebijakan tersebut menjadi langkah positif dalam menekan biaya operasional sektor perikanan sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan nelayan.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar yang masih dihadapi nelayan bukan hanya persoalan harga BBM, melainkan kemudahan akses dan tata kelola distribusi di lapangan.

“Harga BBM yang lebih terjangkau tentu patut diapresiasi. Namun, keberhasilan kebijakan ini akan ditentukan oleh sejauh mana nelayan benar-benar dapat memperoleh BBM dengan mudah saat hendak melaut. Jangan sampai harga sudah turun, tetapi BBM tetap sulit didapat,” ujar Masady dalam keterangannya.

Ia mengungkapkan, hasil survei DFW Indonesia menunjukkan sebanyak 66,3 persen nelayan kecil belum memperoleh BBM bersubsidi. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 25 persen yang mendapatkan BBM melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN), sementara 75 persen responden menyatakan kuota BBM yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan operasional mereka.

Akibat keterbatasan tersebut, banyak nelayan terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi.

Masady menambahkan, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah daerah, seperti Bengkalis dan Bintan. Di wilayah tersebut, nelayan dilaporkan kesulitan memperoleh solar bersubsidi sehingga harus membeli dengan harga lebih mahal atau bahkan menghentikan aktivitas melaut selama beberapa hari.

Ia juga menyoroti masih terbatasnya jumlah SPBUN di Indonesia. Saat ini diperkirakan baru terdapat sekitar 72 SPBUN, padahal kebutuhan nasional mencapai sekitar 200 unit agar distribusi BBM dapat menjangkau sentra-sentra perikanan secara merata.

Karena itu, GNTI meminta pemerintah menjadikan kebijakan harga BBM Rp 15.000 per liter sebagai momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi BBM bagi nelayan.

Menurut Masady, pemerintah perlu memperbanyak pembangunan SPBUN di kawasan pesisir dan pelabuhan perikanan, menyederhanakan mekanisme penyaluran, memperkuat pengawasan distribusi, serta memastikan nelayan tidak lagi bergantung pada jalur distribusi informal yang menyebabkan harga BBM menjadi lebih mahal.

Selain pembenahan distribusi, GNTI juga mendorong penyederhanaan regulasi perizinan kapal nelayan.

“Pemerintah perlu mempercepat dan mempermudah pengurusan izin kapal nelayan, baik untuk izin baru maupun perubahan kapasitas kapal. Proses yang sederhana akan memberikan kepastian hukum sekaligus mempermudah nelayan mengakses berbagai program pemerintah, termasuk layanan BBM,” kata Masady.

GNTI juga mengusulkan agar pemerintah memberikan kemudahan kepada koperasi nelayan untuk memperoleh izin mendirikan SPBUN.

Menurut Masady, semakin banyak SPBUN yang dikelola koperasi nelayan, maka rantai distribusi BBM akan semakin pendek, akses nelayan terhadap bahan bakar menjadi lebih mudah, serta peluang terjadinya permainan harga dan penyimpangan distribusi dapat diminimalkan.

Ia menegaskan, kebijakan energi bagi nelayan seharusnya dipandang sebagai investasi strategis negara dalam menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan maritim Indonesia.

“Sebagaimana pupuk menjadi instrumen produksi utama bagi petani, BBM juga merupakan kebutuhan vital bagi nelayan. Karena itu, kebijakan BBM tidak boleh berhenti pada penetapan harga, tetapi juga harus menjamin ketersediaan, kemudahan akses, dan tata kelola yang berpihak kepada nelayan,” tegasnya.

GNTI berharap reformasi harga BBM diikuti dengan pembenahan sistem distribusi, penyederhanaan perizinan, penguatan peran koperasi nelayan, serta perluasan infrastruktur SPBUN di seluruh sentra perikanan. Dengan demikian, manfaat kebijakan pemerintah dapat dirasakan secara langsung oleh para nelayan sebagai ujung tombak penyedia pangan laut nasional.[RD]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Soroti Trend di Lingkungan Birokrasi Aceh Selatan, Tonicko Anggara Pertanyakan Fokus Kinerja SKPK

11 Oktober 2026 - 19:15 WIB

IMG 20261011 WA0026

Langkah Pemkab Aceh Selatan Pulihkan 340 Hektare Sawah, Rehabilitasi Irigasi Didanai TKD Rp1,6 Miliar

10 Oktober 2026 - 01:31 WIB

IMG 20261010 012459 (1100 x 800 piksel)

APBK Aceh Selatan 2027 Disiapkan, Kemiskinan Ekstrem Jadi Prioritas Bupati Mirwan

7 Oktober 2026 - 17:40 WIB

IMG 20261007 WA0050

Bupati Aceh Selatan Kunjungi Warga yang Berobat di Banda Aceh, Singgah di Griya Tuan Tapa

6 Oktober 2026 - 23:14 WIB

IMG 20261006 WA0089

Polda Aceh Siap Bersinergi Agar Kawasan Rawan Tanaman Terlarang Jadi Lahan Produktif

29 September 2026 - 22:49 WIB

IMG 20260929 WA0073
Terpopuler di Pemerintah