Banda Aceh—Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Syiah Kuala (LPPM USK) diharapkan dapat menjadi penggerak utama ekosistem riset sekaligus sebagai orkestrator riset di Aceh.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Direktorat Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis USK, Dr. Ir. Afdhal, S.T., M.Sc., IPU, dalam amarannya saat membacakan pidato sambutan Rektor USK pada rapat kerja (raker) LPPM USK, yang dilaksanakan di Hotel Oasis, Kamis (28/08/2026)

“Kita sedang memasuki fase baru dalam pengelolaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, Bapak Rektor berpesan agar rapat kerja ini jangan dipandang sebagai agenda rutin untuk menyusun program kerja dan anggaran semata. Raker ini harus menjadi momentum untuk menata kembali arah penelitian dan pengabdian USK,” ujar Afdhal.
Dosen Fakultas Teknik USK itu mengatakan, hendaknya LPPM dapat lebih fokus dan meningkatkan kualitas, kolaboratif, berdampak, dan memiliki daya saing yang semakin kuat di tingkat global.
“Ada beberapa hal penting yang menjadi pesan dan arahan Bapak Rektor. Pertama, LPPM USK harus menjadi penggerak utama ekosistem riset USK. SOTK baru memberikan penekanan yang kuat terhadap manajemen riset dan pengabdian, pengembangan riset, kolaborasi, serta hilirisasi. Ini menunjukkan bahwa LPPM ke depan tidak cukup hanya berperan sebagai pengelola administrasi penelitian,” tegasnya.
Lebih lanjut, Afdhal menyampaikan LPPM harus mampu memetakan kekuatan kelompok-kelompok riset, mengembangkan pusat-pusat keunggulan, mempertemukan kepakaran yang berbeda, mendorong riset multidisiplin dan transdisiplin, memperluas kolaborasi nasional dan internasional, serta membuka akses terhadap sumber-sumber pendanaan baru.
“Tidak kalah penting, LPPM harus memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti pada laporan dan publikasi, tetapi bergerak menuju inovasi, pemanfaatan, hilirisasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Afdhal juga berpesan agar LPPM memperbaharui Rencana Induk Penelitian USK, dengan mempertimbangkan kekuatan internal kepakaran dan kapasitas SDM USK dan kekuatan eksternal berupa potensi, persoalan, dan kebutuhan strategis Aceh dan Indonesia.
“Karena itu, paradigma yang ingin kita bangun adalah Think globally, leverage Indonesia, solve locally. Kita berangkat dari persoalan nyata di Aceh dan Indonesia, menggunakan kepakaran terbaik yang dimiliki USK, kemudian menghasilkan solusi yang memiliki standar dan relevansi internasional,” tegas Direktur Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis kepada pengelola LPPM USK.[]














